Anies Sebut Kasus Covid-19 di DKI Capai 80 Ribu, Ade: Lucu, Dia Memang Tidak Pintar

Posted on

Dosen Universitas Indonesia mengkritik yang menyebut jumlah kasus Covid-19 di Jakarta diperkirakan mencapai 40 ribu hingga 80 ribu.

Menurut Ade, apa yang disampaikan Anies saat diwawancari oleh media Australia, The Sydney Morning Herald dan The Age beberapa hari lalu itu, merupakan sesat pikir dan hasil kalkulusi mengarang bebas.

“Ini ternyata hasil kalkulasi mengarang bebas Anies yang menunjukkan bahwa dia memang tidak pintar,” kata Ade dalam tulisan ‘Sesat Pikir Bilang Penderita Covid-19 di DKI Mencapai 80 Ribu’ di akun Facebook-nya, Kamis (14/5/2020).

“Bahkan Anies dengan bangga menyatakan dia bekerja mengandalkan data saintifik. Sedihnya, yang ada justru pertunjukan kebodohannya. Lucunya, ketika kemudian hasil wawancara itu muncul di pemberitaan SMH, angkanya sudah berubah,” kata Ade.

Berikut tulisan lengkap , dikutip netralnews.com dari akun Facebook-nya.

SESAT PIKIR ANIES BASWEDAN BILANG PENDERITA COVID-19 DI DKI MENCAPAI 80 RIBU

Pernah dengar kan bilang bahwa jumlah penderita Covid 19 di DKI Jakarta sebenarnya sudah mencapai 80 ribu? Padahal menurut data resmi pemerintah, angkanya baru 5.700.

Ini ternyata hasil kalkulasi mengarang bebas Anies yang menunjukkan bahwa dia memang tidak pintar.

Angka 80 ribu itu datang dari proyeksi buatan Anies berdasarkan jumlah orang yang dimakamkan di DKI Jakarta.

Jumlah orang yang dimakamkan di DKI pada Maret dan April rata-rata adalah 4.000 orang per bulan.

Nah, Anies menganggap ini janggal, karena pada bulan-bulan sebelumnya jumlah orang yang meninggal tidak sampai 3.000.

Lalu, sang jenius Anies menyimpulkan: 4.000 itu adalah penderita Covid-19.

Mortality Rate Covid-19 adalah 5-10%, artinya jumlah penderita Covid-19 adalah 20 kali lipat atau 10 kali lipat.

Karena itu, menurut Anies, jumlah penderita Covid-19 sesungguhnya adalah 10 atau 20 kali 4.000 = 40.000 – 80.000 orang.

Ini dia sampaikan dalam wawancara Anies dengan wartawan Sidney Morning Herald (SMH), James Messala.

Rekaman wawancara dalam bentuk video itu kemudian diupload ke akun Youtube resmi pemprov DKI, pada 11 Mei.

Jadilah meledak sebagai berita besar.

Jadilah kita sekarang tahu betapa tidak pintarnya Anies.

Kok bisa-bisanya dia menganggap ada 4 ribu orang meninggal karena Covid 19?

Kan 4.000 orang itu bisa meninggal karena akibat macam-macam? Dari sudah umurnya sampai gagal ginjal, sampai demam berdarah dst.

Kok kesannya Anies kepengen banget ya angkanya sespektakuler itu?

Ironisnya, dalam reportase itu, James Messala terkesan ingin menunjukkan bahwa Anies itu keren. Dia bergerak cepat, transparan dan bekerja dengan menggunakan data. Ini kemudian dikontraskan dengan pemerintah pusat yang lamban, tidak transparan dan menutup-nutupi keadaan sebenarnya.

Bahkan Anies dengan bangga menyatakan dia bekerja mengandalkan data saintifik. “Sudah saatnya pengambilan kebijakan dimabil berdasarkan sains,” ujarnya dengan jumawa.

Sedihnya, yang ada justru pertunjukan kebodohannya.

Lucunya, ketika kemudian hasil wawancara itu muncul di pemberitaan SMH, angkanya sudah berubah.

Kalau di versi online SMH, angkanya sudah bukan 4.000 tapi 1.500.

Jadi ditulis di sana, rata-rata orang meninggal sebelum Maret adalah 3000/bulan; dan pada Maret/April naik menjadi 4500/bulan.

Nah Anies menyimpulkan, selisih 1500 itu adalah orang yang meninggal karena Covid-19.

Jadi menurut hitungan dia, jumlah penderita Covid-19 adalah 10 atau 20 kali 1.500 = 15.000 – 30.000

Kok jadi ada dua versi?

Yang jelas, Anies memang menyatakan angkanya 80.000 di rekaman video yang diunggah oleh Pemprov DKI. Jelas dia mengatakan itu. Info valid.

Bahwa di SMH, angkanya turun jadi 30.000; mungkin karena kemudian ada proses editing atau rewriting.

Tapi bahkan yang versi 30.000 itu pun aneh.

Masak karena ada selisih 1.500, lantas disimpulkan bahwa itu adalah orang yang meninggal karena Covid-19?

Kalau mau sebenarnya Anies bisa mengerahkan TGUPP yang memang nggak pernah jelas kerjanya apa untuk turun ke lapangan mempelajari penyebab kejanggalan itu.

Datangi saja sampel 200-300 keluarga yang anggota keluarganya meninggal pada Maret-April, dan tanyai mereka apakah sebelum almarhum meninggal ditemukan tanda-tanda Covid-19.

Dengan hasil penelitian itu, barulah Anies bisa bicara.

Tapi untuk melakukan itu memang ada syarat yang harus dipenuhi: Anies memang berniat baik dan Anies memang pintar.

Jangan-jangan keduanya memang tidak dimiliki Anies.

 

Jangan Lupa share