Rasio Corona di Jakarta Terhadap Nasional Turun: Dulu 82,29%, Sekarang 41,53%

Posted on
Avatar
Kasus positif corona di Indonesia per 28 April 2020 mencapai 9.511. Menariknya, jumlah itu tak lagi terpusat di Jakarta.
Ini jelas berbeda dengan data corona saat kali pertama mengemuka. Pada awal Maret 2020, kasus corona di Indonesia terpusat di Jakarta. Bahkan, angka kasus di Jakarta, saat itu, lebih besar jika dibandingkan jumlah kasus di seluruh Indonesia.
Mengacu situs https://corona.jakarta.go.id, rasio kasus corona di Jakarta terhadap nasional bahkan pernah mencapai lebih dari 100 persen.
Data itu jelas mengejutkan. Sebab semestinya, rasio kasus corona di suatu provinsi tak mungkin lebih dari 100 persen.
Oleh sebab itu, kita perlu menyingkirkan data yang berbeda tersebut. Tujuannya untuk melihat pergerakan rasio jumlah kasus corona di Jakarta terhadap nasional.

Lantas, bagaimana elaborasinya?

Beda Data Pusat dan Jakarta

Kasus positif corona untuk kali pertama terungkap di Jakarta. Tepatnya dari sebuah pesta dansa di Restoran Amigos, Kemang, Jakarta Selatan, 2 Maret 2020. Kala itu, kasus positif di Indonesia tercatat hanya dua orang.
Bantuan Langsung Tunai
Meski demikian, dua orang positif corona tersebut tak tercatat di klaster Jakarta. Berdasarkan data corona milik Pemprov DKI, kasus corona di Jakarta baru tercatat pada 3 Maret 2020. Kala itu, ada tiga orang yang positif corona.
Data ini jelas berbeda dengan yang dirilis oleh pemerintah pusat. Itu karena, pusat mengklaim bahwa kasus corona nasional baru dua orang per 3 Maret 2020.
Menariknya, data corona yang dirilis Pemprov DKI selalu lebih besar dari yang dirilis pusat. Selisih data itu terus berlanjut hingga 13 Maret 2020. Hal inilah yang menyebabkan rasio kasus corona Jakarta terhadap nasional pernah mencapai lebih dari 100 persen
Pada 8 Maret 2020, misalnya, pusat menyebut kasus positif corona nasional mencapai 6. Sebaliknya, Pemprov DKI menyebut kasus corona di Jakarta mencapai 11. Bila dihitung, rasio kasus corona di Jakarta terhadap nasional menjadi 183 persen.
Terkait dengan perbedaan data itu, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan enggan berkomentar. Ia hanya menyebut Pemprov DKI Jakarta hanya memaparkan data sebagaimana adanya.
“Kami dari DKI Jakarta menerapkan transparansi. Urgensi adalah faktual. Kami sampaikan apa adanya dan apa yang kami sampaikan adalah laporan resmi dari Dinkes ke Kemenkes,” kata Anies saat konferensi pers di Balai Kota dan ditayangkan secara online, Jumat (20/3).
Anies Baswedan-PSBB DKI Jakarta

Menghitung Rasio Corona Jakarta

Seperti telah disinggung sebelumnya, angka positif corona di provinsi mestinya lebih kecil dari nasional. Itu karena, data corona nasional adalah agregat dari laporan kasus yang berada di daerah.
Oleh sebab itu, kami mengasumsikan bahwa data 2-13 Maret 2020 tidaklah valid atau meragukan. Data yang bisa dibilang valid baru bisa ditemui pada data 14 Maret 2020. Dalam data itu, jumlah kasus corona di Jakarta lebih kecil daripada data nasional.
Pada 14 Maret 2020, kasus positif corona di Jakarta mencapai 79. Sementara itu, kasus positif corona di nasional mencapai 96. Artinya, rasio kasus corona di Jakarta terhadap nasional mencapai 82,29 persen.
Maka, selanjutnya kita dapat melihat pergerakan rasionya secara lebih masuk akal. Sejak 14 Maret 2020, rasio positif corona Jakarta terus turun hingga kurang dari 50 persen.
Pada 27 April 2020, rasionya bahkan turun setengahnya menjadi 42,13 persen. Lalu, pada 28 April 2020, rasionya kembali turun ke 41,53%. Dengan begitu, jumlah kasus positif corona di Jakarta tak lagi lebih besar dibanding akumulasi jumlah kasus corona di 33 provinsi lain.
Pengamanan pemakaman jenazah virus corona
Data ini sejalan dengan temuan Lembaga Alvara Research Center. Dalam analisisnya, Alvara menyebut episentrum corona di Indonesia sudah bergeser.
Pertumbuhan kasus positif virus corona di Jakarta pun sudah menunjukkan tanda-tanda perlambatan.
“Posisi episentrum pandemi kemungkinan besar mulai bergeser ke provinsi-provinsi di luar Jakarta, terutama provinsi-provinsi di Jawa,” ujar Pendiri Alvara Research Hasanuddin Ali dalam rilisnya yang diterima kumparan, Minggu (26/4).
Jangan Lupa share