Cerita Rika Novitasari, Istri Polisi asal Tebo yang Jadi Relawan Covid-19 di Jakarta, Tinggalkan Keluarga Demi Panggilan Hati

Posted on
Avatar

Tekad perempuan ini untuk mengabdi sangatlah patut diacungi jempol. Ketika semua orang begitu takutnya dengan pandemi Covid-19, ia malah mendaftar sebagai relawan, meninggalkan keluarga besar di Tebo untuk berangkat ke Jakarta.

Rika Novitasari (29). Begitu nama lengkapnya. Perempuan asal Kabupaten Tebo kini menjadi relawan dalam penanganan covid-19 di Jakarta.

Wartawan koran ini mencoba mewawancarai Rika di tengah kesibukannya di Jakarta. Tentu via ponsel.

Menurutnya, kepergiannya menjadi relawan pandemic Covid-19, tidak berjalan mulus, kerena mendapat penolakan dari pihak keluarga hingga dari ketua Bhayangkari Cabang Tebo, kerena Rika sendiri murupakan isteri dari anggota Polri.

Keluarganya beranggapan  untuk apa mendekati penyakit yang berhahaya itu, sedangkanbanyak orang yang menjauh.

Saat di konfirmasi, dia menceritakan awal dirinya menjadi relawan, dia mengaku jika hanya iseng belaka untuk mendaftarkan diri sebagai relawan Kementrian Kesehatan (kemenkes), kerena menjadi relawan harus memiliki kemapuan dalam bidang keperawatan, meski Rika Merupakan alumni keperawatan, dia menduga tidak akan lolos seleksi, kerena banyak selakali yang mendaftar menjadi relawan waktu itu.

“Waktu itu saya terdaftar di nomor 50, dari 1.000 orang yang mendafatar, karena dibutukkan 100 orang saja sudah mengira tidak akan lolos, kerena harus benar benar orang  pilihan. Tidak lama kemudian ada konfirmasi bahwa saya lulus untuk menjadi relawan lewat surat keputusan menteri,” kata Rika  Sabtu (25/4) kepada haria Jambi Ekspres (Induk www.jambiupdate.co).

Setelah meyakinkan kedua orang tua dan suaminya akhirnya Rika berangkat ke Jakarta, tepatnya ke RSD Wisma Atlet, kepergian Rika ternyata cukup berat, pasalnya dalam waktu dekat sudah memasuki bulan Suci Ramadhan ditambah harus meninggalkan tiga buah hatinya yang masih terbilang kecil.

“Berat awalnya, tapi bagaimana lagi sudah panggilan hati, harus dijalani dengan sekuat tenaga, datang kesanakan dengan tujuan mulia  agar pendemi Covid-19 segara berakhir dan keadaan sosial bisa pulih seperti sediakala,” akunya.

Di wisma atlet sendiri dia harus bekerja salama delapan jam dalam sehari, pekerjaan itu diakuinya tidak terlalu berat, kerena sama jam kerja perawat pada mestinya, yang membuat beban kerjanya semakin berat adalah saat masyarakat tidak mau mengindahkan himbauan pemerintah untuk jaga jarak.

“Sebenarnya penyakit itu (C0vid-19,red) tidak semenakutkan anggapan masyarakat, hanya saja masih banyak orang yang tidak mau jaga jarak. Pada dasarnya,  penyakit ini menular karena ada interaski seperti jabatan tangan, kalau saja itu tidak dilakukan maka virus tersebut akan mati dengan sendirinya,” tambahnya.

Perempaun kelahiran Tebo itu mengaku bahwa relawan yang dari Provinsi Jambi bukan dia seorang diri, masih ada 9 orang lagi yang menyusul dirinya di RSD Wiswa Atlet.

‘’Dari Jambi sudah banyak, selain saya ada sembilan orang lagi, mereka menyusul setalah saya satu minggu bertugas,” ujarnya.

Selain itu, Rika juga memberikan pemahaman kedapa saudara-saudaranya  yang dari Jambi untuk berhati-hati dalam bertugas, jangan sampai diisolasi karena terjangkit virus corona.

“Kita sudah buat grup whatsapp, ya gunanya untuk saling mengingatkan, apa lagi saya yang lebih dulu datang, saya juga tidak mau yang dari Jambi diisolasi seperti teman dari Makasar diduga terjangkit virus corona,” akunya.

Saat ditanya adanya tim medis yang satu persatu tumbang akibat wabah Corona, dia menegaskan bahwa tim medis yang tumbang penyebab utamanya adalah kelelahan.

“Banyak yang sakit kerena kelelahan, kerena jumlah tim medis masih sangat minim, sementara pasien terus saja bertambah,” sebutnya.

Rika mengaku sudah sangat rindu akan buah hatinya yang ada di Tebo, kerena anaknya yang paling kecil tidak pernah ditinggal sebelumnya.

“Kalau tidak dinas ya paling video call sama mereka, namanya orang tua pasti kangen sama anaknya, apa lagi saya belum tahu kapan pendemi Covid-19 berakhir, semoga saja cepat selesai, kalau tidak, mau tidak mau saya harus lebaran di sini (wisma atlet, red),” ungkapnya.

Rika menyampaikan kepda keluarga besarnya untuk tidak menghawatirkan dirinya, pasalnya semua fasilitas kesehatan sudah dilengkapi oleh pemerintah tersemasuk keselamatan dari tindak kejahatan yang mengancam.

“Di sini samua fasilitas lengkap, tidak perlu khawatir, yang jaga juga banyak, ada dari Polri, TNI, Polisi Militer, Insya Allah di sini kami akan baik-baik saja,” pesan Rika kepada Keluarganya.

Sebagai relawan, ia berpesan kepada pemerintah daerah agar tidak bosan-bosannya mengingatkan pentingnya jaga jarak, dengan jaga jarak semua bisa terhindar dari malabahaya.

“Jangan  bosan-bosan untuk mngingatkan kepada masyarakat agar jaga jarak, agar pandemi covid-19 segera berakhir.  Untuk Ketua Bhayangkari Cabang Tebo terima kasih sudah mengizinkan saya pergi menjadi relawan,” pungkasnya. (scn)

Jangan Lupa share